Apakah gangguan kejiwaan itu menurun di dalam keluarga? Ini jawabannya
Stres kronis dan faktor biologis juga bisa berperan
Model ilmiah lain yang dikenal sebagai model stres-diathesis mencoba untuk menjelaskan hubungan biologis antara predisposisi seseorang terhadap kondisi kesehatan mental dan stres akut atau berkelanjutan.
Menurut Jonathan Sperry, asisten profesor dan anggota fakultas konseling kesehatan mental di Universitas Lynn, model ini mengatakan bahwa kombinasi dari stres kronis seperti stres terkait finansial, pekerjaan, akademik, percintaan, kesehatan fisik, dan keluarga yang dibarengi dengan kecenderungan genetik untuk menderita gangguan kesehatan mental dapat meningkatkan kemungkinan Anda terkena gangguan kejiwaan.
Kemiskinan dianggap sangat berpengaruh terhadap peningkatan risiko penyakit mental. Anak-anak yang tumbuh dalam kekurangan lebih rentan terhadap penyakit mental daripada rekan-rekan mereka yang lebih berkecukupan. Hal ini diungkapkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan di Molecular Psychiatry pada tahun 2016.
Dan Notterman, salah satu penulis penelitian dan ahli biologi molekuler di Princeton University menemukan bukti bahwa telomere, sekuens DNA di ujung kromosom tertentu lebih pendek pada anak-anak dari keluarga miskin. Telomere yang lebih pendek dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik maupun mental. Bisa jadi hal ini dipicu oleh penyebab stres yang berasal dari gizi buruk.
Kesimpulannya...
Ada penelitian yang menunjukkan jika seorang anggota keluarga memiliki penyakit mental, peluang Anda untuk menderita gangguan kejiwaan tersebut mungkin juga akan meningkat.
Namun, bisa jadi Anda tidak akan pernah menunjukkan gejala jika Anda tidak mengalami peristiwa traumatis apa pun sejak kecil. Begitu juga jika Anda berada di lingkungan yang mendukung dan memiliki kehidupan sehari-hari yang relatif bebas stres.
Tetapi penting juga untuk diperhatikan bahwa kondisi kesehatan mental dapat berkembang bahkan jika tidak ada riwayat di dalam keluarga. Masalah kesehatan mental sangat kompleks, jadi penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini. Misalnya saja penarikan diri dari lingkungan sosial, pemujaan berlebihan, kecemasan ekstrem, kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri, periode mania, dan masih banyak lagi.


Komentar
Posting Komentar