Pengiriman pusaka Majapahit ke Solo hindari Alas Roban dan Jembatan Tuntang, ini penjelasannya!!!
Pemerintah Kota (Pemkot) Solo baru saja menerima hibah 1.211 keris dan tosan aji lain dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Ribuan pusaka yang tiba pada Rabu (14/3) pagi tersebut sebagian besar merupakan sitaan Kantor Bea Cukai.
Koleksi tosan aji yang dikirim tersebut berupa keris, tombak, kujang dan lainnya itu sebagian merupakan cagar budaya peninggalan abad 12 di zaman Majapahit. Untuk menghormati kearifan lokal ini diperlukan perlakuan khusus hingga diskusi spiritual.
Saat diturunkan dari truk trailer yang membawanya hingga dipindahkan ke ruang penyimpanan misalnya. Aroma dupa dari ruangan di lantai dasar Museum Keris Nusantara tersebut terasa menyengat saat pintu utama dibuka petugas. Asap pembakaran dupa pun memenuhi ruangan itu setiap hari.
Dupa ini diletakkan di dekat 6 peti kayu masing-masing berukuran 150x60 sentimeter yang diletakkan berjejer bersama 2 boks plastik. Peti kayu dan boks plastik tersebut berisi ribuan pusaka hibah tersebut.
Kepala UPT Museum Dinas Kebudayaan (Disbud) Solo, Bambang MBS mengatakan, ribuan pusaka tersebut dikirim Kemendikbud melalui jalur darat dari Jakarta pukul 17.00 WIB. Untuk menjaga keamanan saat proses pengiriman, koleksi itupun mendapat pengawalan ketat dari petugas.
Tak hanya itu, saat pengiriman tersebut ada sejumlah persyaratan dan ritual yang harus dilakukan. Di antaranya dengan doa bersama dan sesaji uba rampe sebelum keberangkatan ke Solo hingga selama perjalanan.
"Sebelum berangkat kita memang ada doa bersama dan ada medium untuk menetralisir. Uba rampenya ada bancakan kecil, untuk menetralisir bawang, kluwak, bunga dan dupa (kemenyan) yang kita bakar. Itu hasil perenungan kita bersama," ujar Bambang saat ditemui merdeka.com, Kamis (15/3).
Bambang, selama perjalanan dari Jakarta ke Solo, ada tempat-tempat yang dihindari atau dilewati. Untuk sopir dan kru yang membawa keris ke Solo tidak dilakukan ritual khusus. Namun ada sembilan orang khusus yang mengawal truk tersebut. Tiga orang di antaranya ikut dalam truk sedangkan enam lainnya melakukan pengawalan.
"Hasil renungan kita jangan lewat Tuntag (daerah Salatiga), karena kita bawa besi yang banyak dengan daya magis yang besar, ditakutkan akan terjadi dialog yang tidak harmonis. Daripada terjadi apa apa ya kita hindari saja lah," katanya.
Menurut Bambang, di daerah sekitar Jembatan Tuntang tersebut pedanyangannya (mistis) kuat. Sehingga dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Akhirnya pihaknya harus mengambil jalur lain, yakni melalui jalan tol Semarang-Solo.
Selain Jembatan Tuntang, Bambang menerangkan, daerah lain yang juga dihindari adalah Alas Roban di Kabupaten Kendal. Lokasi tersebut konon mempunyai sejarah angker dimasa lalu.
"Kita menghindari lokasi tersebut, biar perjalanannya lancar, tidak ada gangguan di jalan, seperti sopir kesurupan atau mengantuk saat menyetir. Ini bukan klenik, tapi kearifan lokal yang harus kita hornati," katanya.
Selama proses pengiriman, mobil yang membawa keris tersebut juga dikawal secara tertutup dengan melibatkan petugas.
Setiba di Solo, koleksi pusaka disimpan di ruangan khusus yang juga diberikan sesaji setiap hari. baik di dalam boks kayu dan plastik. Nantinya pembukaan koleksi yang terbungkus dalam boks kayu dan plastik bakal disaksikan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Dinas Kebudayaan, Kurator dan Kepolisian.
Nantinya sebelum dipamerkan, Pemkot akan menggandeng kurator serta BPCB menginventarisasi ulang hibah dari Kemendikbud. Inventarisasi dilakukan terkait pamor keris dan lainnya. Menurutnya dengan hibah Kemendikbud maka koleksi tosan aji di Museum Keris Nusantara bertambah.
Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan selain keris hibah hasil sitaan Bea Cukai, Pemkot juga sudah mengajukan surat kepada pemerintah pusat untuk ikut merawat keris hibah dari Belanda. Pemkot kini masih menunggu pemulangan 1.500 artefak dari Negeri Kincir Angin tersebut.
"Saya berharap Pemerintah Pusat menyetujui permohonan Pemkot merawat keris tersebut. Keberadaan Museum Keris, sangat penting sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang dunia perkerisan," pungkas Rudyatmo.

Komentar
Posting Komentar