Dicapreskan, Luhut Tampar Anies dengan Sampah Jakarta! Pedas dan Keras!
Belum genap setahun memimpin Jakarta, Anies Baswedan dianggap sudah mampu melakukan perubahan wajah ibukota. Sayangnya, bukan menjadi "maju kotanya, bahagia warganya" seperti yang pernah digembar-gemborkan di atas mimbar kampanye, melainkan sebaliknya. Jakarta dinilai kian kumuh dengan tumpukan sampah yang menggunung setiap harinya.
Terkait perubahan wajah Jakarta, Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan memberikan tamparan keras buat Anies soal sampah. Ia menyentil Anies soal penanganan sampah. Ia meminta Program pengelolaan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter dirasa harus ditambah, mengingat sampah DKI mencapai 8.000 ton per hari.
Hal itu disampaikan Luhut di depan jemaat HKBP di Sopo Marpingkir HKBP, Pulogebang, Jakarta Timur, Selasa (10/7/2018). Luhut bilang, pemerintah pusat mengalokasikan dana 1 miliar USD untuk penanganan sampah di Indonesia. Kalau program ITF terus dilakukan, Jakarta akan semakin bersih dalam 3-4 tahun ke depan.
"Sampah ini nggak ada agamanya, nggak ada sukunya, nggak ada kaya-miskin, semua sama. Ini harus kita lakukan, kebetulan di bawah saya, karena 80 persen sampah di laut itu datang dari darat," kata Luhut.
Waduh! Pedas dan keras! 8 ribu ton sampah menggunung tiap hari di Jakarta jelas akan memberikan efek sosial, lingkungan, dan kesehatan yang amat serius bagi warga Jakarta, apalagi 80%-nya bakal mengalir ke laut. Pernyataan Luhut ini jelas menjadi tamparan yang cukup keras bagi Anies di di depan jemaat HKBP.
Yang tak kalah menohok, pernyataan Luhut itu disampaikan ketika nama Anies Baswedan disebut-sebut bakal dicapreskan di Pilpres 2019. Secara tersirat, Luhut mau bilang, jangankan mengurus Indonesia dengan tumpukan masalah yang rumit dan kompleks, mengurus tumpukan sampah Jakarta saja kedodoran.
Tapi, kenapa sampah dikaitkan dengan soal SARA? Apakah Luhut bermaksud menyindir Anies soal Pilkada 2017 DKI yang dinilai telah memolitisasi SARA hingga membuat warga Jakarta terpolarisasi dan terprovokasi?
Seandainya Anies memang tergoda untuk maju di bursa Pilpres 2019, apakah Luhut juga hendak memberikan teguran kepada Anies agar tidak menjadikan SARA yang sebagai senjata politik yang rentan dan berpotensi memecah-belah nilai kerukunan dan persatuan?



Komentar
Posting Komentar